Terkini

Saat Covid-19 Mengubah Ramadhan: Masjid Ditutup hingga Buka Puasa Virtual

Malam di bulan Ramadhan biasanya menjadi waktu bagi umat islam untuk berbondong-bondong menuju masjid untuk menunaikan salat isya dan tarawih. Tapi, kali ini berbeda.

Virus Corona yang mewabah hampir ke seluruh dunia telah mengubah Ramadhan tahun ini. Masjid-masjid ditutup, umat islam shalat di rumah masing-masing.

Dilansir CNN, selama bulan Ramadhan umat Islam memiliki dua waktu makan, untuk mengawali dan mengakhiri puasa, yaitu sahur dan ifthar atau buka puasa. Biasanya saat inilah umat islam berkumpul dengan keluarga atau kerabat, bahkan sahur atau berbuka bersama-sama dengan komunitas.

Tapi, tahun ini tradisi itu tak berlanjut. Lockdown kota, larangan mudik, dan larangan bergerombol menjadi penyebabnya.

Situs-situs suci islam, Mekkah dan Madinah di Arab Saudi, sudah lebih dulu kosong sebelum Ramadhan. Komplek Masjid Al-Aqsa juga akan tetap ditutup selama bulan Ramadhan.

Tarawih memang tetap diadakan, namun diberikan pembatasan kuota peserta. Beberapa masjid menerapkan aturan salat Tarawih di masjid cuma dapat ditunaikan oleh imam dan pemimpin doa di masjid.

Para cendekiawan muslim London dan New York pun telah menyerukan umat islam untuk ibadah di rumah dalam bulan Ramadhan ini. Itu untuk mengurangi penyebaran virus Corona.

Menurut pendiri dan presiden Institut Penelitian Islam Yaqeen, Omar Suleiman, secara historis masjid-masjid dipenuhi oleh para jamaah selama bulan Ramadhan tapi shalat akan tetap di lakukan di rumah.

Saat menghadapi situasi ini, ketika orang-orang dikarantina di rumah untuk menghindari penyebaran virus Corona, Suleiman mengatakan bahwa dia ingin mendorong umat islam untuk fokus, yakni dengan cara membangun kebiasaan agar karantina menjadi jalan untuk mencapai kedamaian batin.

Menurut Aljazeera, sementara banyak masjid yang terus terbuka, beberapa kegiatan seperti ceramah, buka puasa virtual dan bacaan Alqur’an akan bisa diamati secara online. Tapi, tidak untuk shalat tarawih karena ketentuan shalat berjamaah tak bisa dilakukan di tempat yang berbeda.

“Tahun ini, dengan masjid dan pusat-pusat islam tetap tutup dan langkah-langkah jarak sosial (diberlakukan), Ramadhan akan diamati secara online-sosial dan spiritual, dengan buka puasa virtual, ceramah langsung dan bacaan Al Qur’an kata Sekretaris Jenderal Dewan Muslim Inggris, Harun Khan.

“Tapi, mengingat bahwa hampir cendekiawan setuju bahwa salat berjamaah tidak dapat diselenggarakan melalui internet, umat islam yang mau shalat berjamaah akan melakukannya di rumah mereka sendiri dengan orang-orang yang tinggal bersama mereka, dipimpin oleh salah satu anggota keluarga,” kata Khan.

Hind Makki, seorang pendidik antar agama di Chicago yang bermarkas di Institute for Social Policy and Understanding, mengatakan kepada CNN, bahwa Ramadhan ini merupakan waktu yang tepat untuk merefleksi diri.

“Kita juga dapat kembali ke gagasan bahwa Ramadhan adalah retret spiritual dan sejak kita semua berada di rumah, sebagian besar dari kita, kita tidak selalu harus (melakukan kegiatan) online,” kata Makki.

Tetapi, Makki mengatakan berencana menghadiri beberapa buka puasa virtual, sementara restoran ditutup untuk makan di tempat dan larangan untuk berkumpul. Dia mengatakan setidaknya kegiatan itu akan memberinya kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain ketika berbuka puasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*