Terkini

Persoalan Tayangan Televisi Bagi Keluarga di Indonesia

Media penyiaran saat ini telah menjadi kebutuhan bagi semua orang sebagai wadah penyaluran maupun sumber informasi dan hiburan. Media penyiaran sendiri berisikan berbagai macam konten dengan berbagai macam genre dan berbagai macam target audiens. Namun beberapa tahun kebelakang banyak sekali perubahan dari konten-konten yang disajikan dalam media penyiaran khususnya bidang pertelevisian, dimana didalamnya berisikan konten yang tidak mendidik dengan waktu penayangan yang tidak sesuai.

Pernahkah Anda merasa tayangan televisi semakin minim kualitas dan kurang mengedukasi keluarga? Terlebih bagi anak-anak. Tayangan televisi semakin sedikit dan bahkan nyaris tidak ada yang mengedukasi anak-anak. Bisa dikatakan banyak yang memberi dampak buruk pada anak, terlebih mengenai kekerasan fisik hingga pornografi.

Hal ini jelas menjadi masalah bagi banyak pihak dimana salah satunya adalah memberi pengaruh buruk bagi sebagian audiens yang menonton, yang kemudian menimbulkan beberapa konflik dalam media penyiaran itu sendiri.

Dihimpun dari berbagai media, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) lewat komisionernya, Dewi Setyarini, memaparkan persoalan tayangan televisi di Indonesia masa kini terhadap keluarga.

1. Kekerasan

Acara televisi banyak mengandung adegan kekerasan. Bahkan tayangan untuk keluarga pun banyak adegan yang memperlihatkan kekerasan fisik maupun verbal. Efek buruknya adalah anak-anak meniru adegan kekerasan di televisi.

2. Tidak ada nilai edukasi

Banyak tayangan televisi terlebih sinetron yang sebenarnya tidak punya nilai edukasi sama sekali.

3. Kurangnya program acara untuk anak

Jika dilihat lagi stasiun televisi yang ada, sudah semakin berkurang tayangan untuk keluarga terlebih bagi anak-anak. Kalau dulu waktu saya kecil, hari minggu itu hari tayangan televisi untuk anak-anak. Hampir semua stasiun televisi pasti punya program acara untuk anak. Namun, jika kita lihat jadwal acara televisi, makin sedikit acara yang menampilkan program informasi menarik untuk anak.

4. Adegan seks

Seringkali beberapa tayangan mengandung adegan seks yang tersamarkan seperti unsur seksual, berciuman, bahkan mengeksploitasi anak.

5. Klasifikasi

Klasifikasi acara televisi yang salah bisa berakibat fatal bagi anak-anak. Seperti tayangan harusnya untuk dewasa (D) malah ditulis untuk Keluarga (K).

6. Kualitas substansi

Saat ini memang sudah ada tayangan untuk anak di televisi, tapi sayangnya kurang menarik minat anak untuk menonton. Dari segi kualitas pun masih kalah menarik jika dibanding acara anak buatan negara lain. Bahkan dari segi kualitas tayangan masih mengandung kekerasan bukannya kehidupan sehari-hari yang mendidik anak.

7. Narasumber anak

Masih banyak terjadi di tayangan televisi yang menghadirkan anak-anak sebagai narasumber, terlebih untuk kasus bencana atau perselingkuhan dan perceraian orang tua. Bencana seperti kasus kapal tenggelam atau bencana gempa bumi yang diwawancarai adalah anak. Kasus perceraian selebriti pun demikian, anak-anaknya lah yang dijadikan sasaran untuk mencari informasi tentang keluarganya.