Terkini

Langka, Harga Masker Naik 1.000 Persen

FAJAR.CO.ID,MAKASSAR – Harga masker naik gila-gilaan gara-gara isu virus korona. Polisi juga mengamankan pelaku penyalahgunaan bisnis masker.

DI Makassar, kenaikan harga masker mencapai 1.000 persen alias naik 10 kali lipat dari harga semula. Masker biasa yang harga semula Rp2.000 per lembar, kini di kisaran Rp20.000.

Bukan hanya naik, masker juga sudah langka. Beberapa hari terakhir, masyarakat kesulitan mendapatkannya. Sejumlah apotek dan pedagang eceran kehabisan stok.

Sejumlah apotek dan pedagang eceran di Jalan Perintis Kemerdekaan tidak lagi menjual masker. Bahkan, beberapa apotek memasang kertas pengumuman “Masker Kosong” di pintunya. Salah satunya Apotek Talita.

Begitu juga di Jalan Urip Sumoharjo. Masker sudah tidak ada lagi. Mini market pun demikian. Stok masker hanya didapatkan di Toko Citra Jalan Ratulangi. Hanya saja harganya melonjak. Pagi kemarin warga antre panjang.

“Kami terpaksa beli. Karena bukan hanya masker saja yang susah didapat, tetapi sanitasi juga sudah langka sekali. Harga masker biasanya Rp2.000. Ini sudah Rp20 ribu,” kata Warga Jalan Cenderawasih, Bella Saphira, Selasa, 3 Maret.

Bella berharap pemerintah mengambil tindakan. Sebab, kenaikan harga ini dipicu adanya keadaan. Bukan karena biaya produksi atau bahan baku. “Kepolisian seharusnya menangkap penimbun,” harapnya.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Ibrahim Tompo mengatakan, kelangkaan masker terjadi karena ada seseorang yang memborong barang tersebut. Makanya, saat ini petugas diminta untuk memastikan tidak ada upaya penimbunan.

“Semua petugas dikerahkan. Termasuk di Polres jajaran untuk memastikan toko atau pun minimarket tidak menimbun masker,” katanya. Selain itu, pihaknya juga melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat untuk mengatasi virus corona.

Borong Masker

Sementara itu, dua oknum mahasiswa Atma Jaya, James Ximenes Wijaya (21) dan Jordi Marten (21), diamankan, kemarin. Keduanya diduga memanfaatkan kelangkaan masker untuk keuntungan pribadi.

Pihak kepolisian Mapolrestabes Makassar membekuknya di kantor Eskpedisi DHL, Lantai I, Hotel Horison, Jl Jenderal Sudirman, Selasa, 3 Maret. Keduanya tertangkap basah akan mengirim 200 boks masker merk Sensi dan One Med ke Selandia Baru.

Tepat sekitar pukul 12.00 Wita, petugas membekuknya. “Selama ini, hanya mengirim ke Jakarta. Ini pertama kali untuk mengirim ke Selandia Baru,” kata James di hadapan pihak kepolisian.

Ia mengaku, membeli masker dengan jumlah banyak dari beberapa apotek di Makassar. Termasuk membeli dari pengecer di sepanjang Jalan Antang Raya dan di Samata, Kabupaten Gowa. Untuk mengumpulkan 200 boks masker, dikerjakan selama dua pekan.

“Masker tersebut saya beli dari berbagai apotek dan para karyawan di tempat penjualan alat-alat kesehatan dengan harga Rp230 ribu. Ada juga harga normal Rp50 ribu,” ungkapnya lagi.

James bilang, ia mendapatkan suntikan dana dari perempuan bernama Felicia di Kalimantan Barat. “Saya kenalnya di Facebook. Dan dia minta mengirim masker ini ke Derren yang bekerja di salah satu apotek di New Zealand,” ujarnya.

Dari pembelian masker itu, James mengaku diberikan fee sebesar Rp5.000 per dos. “Nilai barang yang akan Saya kirim sekitar Rp50 juta. Dari pengiriman barang, rencananya saya dapat fee Rp10 juta,” terangnya.

Ratusan dos masker ini nyaris saja terkirim. Jordi bilang, Senin, 2 Maret, sekitar pukul 16.30 Wita, dirinya bersama James mengantar masker itu ke DHL menggunakan mobil. Hanya saja, kantor ekspedisi sudah akan tutup.

Makanya, masker yang akan dikirim dititip di kantor tersebut. “Apalagi maskernya masih kurang. Tadi pagi (kemarin), kami bawa lagi 30 dos untuk penuhi kekurangannya. Ongkos pengirimannya, Rp13,7 juta,” katanya.

Hanya saja, petugas lebih dahulu mengetahui rencana pengiriman itu. Makanya, masker yang hendak dikirim tertahan. Batal dikirim. Keduanya pun diamankan di Mapolrestabes Makassar untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Yudhiawan Wibisono mengatakan, status kedua pengirim masker belum ditetapkan. “Penyidik masih memintai keterangan. Saya belum tahu, apakah ditahan atau tidak. Itu penyidik yang tahu,” katanya, kemarin.

Yudhiawan menghimbau masyarakat tidak panik. Tetapi, perlu waspada. Caranya untuk selalu menggunakan pembersih tangan. Saat sedang flu juga menggunakan masker. “Masrayakat juga jangan memborong masker. Maksimal dua saja. Lebih sudah tidak boleh,” imbuhnya.

Tipu Pembeli

Di Parepare, pedagang online, Yunus Hamsa dan Surianto juga dibekuk polisi karena memanfaatkan isu virus korona dengan modus menipu. Motifnya, kedua penjual online ini berkedok menjadi distributor lalu menawarkan dagangannya melalui group-group forum jual-beli di media sosial. Salah satunya di Facebook.

Sampai akhirnya keduanya dilaporkan oleh Fadillah, seorang warga Barru yang sudah tertipu. Polisi lalu menangkap mereka. Keduanya kini mendekam di Polres Barru.

Keduanya ditangkap oleh Tim Crime Hunter Resmob Polres Parepare dan Tim Resmob Polres Barru pada Senin, 2 Maret, kala sedang duduk santai di rumahnya masing-masing, di sekitar Jalan Sosial Parepare.

Ada pun korban, Fadillah membeberkan, dia merasa dirugikan dan telah menjadi korban karena masker yang dia pesan diganti dengan barang lain. Rupanya bukan masker yang tiba di ekspedisi, tetapi buku tulis dan selimut bekas. Padahal, dia sudah mentransfer uang kepada pelaku sebesar Rp2,5 juta.

“Saya pesan melalui akun Sinta Putri, lalu saya dan penjual melanjutkan percakapn melalui WhatsApp. Kemudian setelah ada kesepakatan saya mentransfer uang sebesar Rp2.550.000,” bebernya.

Jumlah masker yang dipesan sebanyak 15 boks. Saat barang tiba tidak sesuai perjanjian, ia langsung komplain. Namun, pelaku malah memblokirnya, baik di Facebook maupun di WhatsApp.

Saat diintrogasi, Yunus dan Surianto mengakui perbuatannya. Mereka punya 8 akun Facebook palsu yang khusus digunakan untuk mencari mangsanya. “Kami akui, Pak. Kami sudah menjual masker itu,” ujarnya.

Batasi Pembelian

Apoteker Kimia Farma Ahmad Yani, Citra Ratnasari, mengaku persediaan masker dengan merek N95 maupun Sensi kosong sejak beberapa hari lalu. Ia baru mengajukan penambahan lagi, kemarin. Akan tetapi, harganya naik drastis.

“Ada peningkatan penjualan yang meningkat pesat. Harganya juga gila-gilaan. Dari harga normal Rp55 ribu, naik hingga Rp290 ribu per boks,” ungkapnya.

Hal ini membuat pembelian masker kini mulai dibatasi di setiap apotek Kimia Farma. Pembeli hanya dijatah lima bungkus setiap orangnya. Satu bungkus berisi dua lembar masker.

“Pimpinan Kimia Farma sudah mengimbau jika punya stok masker pembeliannya dibatasi agar semua masyarakat kebagian. Apalagi, sempat dapat kunjungan dari Dinas Kesehatan dan mereka mendukung akan hal itu,” bebernya.

Dia menyebut, saat ini masker dibanderol dengan harga Rp7.500 untuk satu bungkusnya. Semetara, masker berisi empat lembar kini naik menjadi Rp20 ribu setiap satu bungkus.

Sanksi Tegas

Kepala Diskes Kota Makassar Naisyah Tun Azikin mengungkapkan, masuknya virus korona memang membuat masyarakat menjadi khawatir. Akibatnya, masker pun menjadi serbuan. Masyarakat berlomba untuk mendapatkannya.

Hanya saja, dia menegaskan, tak boleh ada yang memainkan harga. Diskes Makassar bakal melakukan pengawasan ekstra terhadap penjualan masker di apotek. Sanksi tegas pun menanti.

“Kita sementara memantau penjualan masker di apotek. Tidak boleh mereka memainkan harga di saat krisis seperti ini. Apalagi sengaja melakukan penimbunan,” tegas Naisyah, Selasa, 3 Maret.

Naisyah menyebut sanksi tegas terhadap apotek yang memanfaatkan situasi ini tak bakal pandang bulu. Bila kedapatan menjual masker dengan harga di luar dari biasanya, Diskes tak segan mencabut rekomendasi izinnya.

Di sisi lain, Naisyah juga mengimbau masyarakat untuk tidak membeli masker secara berlebihan atau borongan. Agar masyarakat lain yang membutuhkan juga bisa kebagian.

“Kalau mau beli, silakan. Tetapi beli sesuai kebutuhan saja. Jangan langsung mau habisi semua. Beri kesempatan yang lain juga. Jadi harus dibatasi,” imbaunya.

Sementara, untuk ketersediaan masker di Diskes Makassar saat ini masih terbilang cukup. Nasiyah menyebut masih ada sekitar 250 ribu lembar. Semua siap terdistribusi ke seluruh puskesmas di Makassar.

“Cuma kalau di puskesmas itu tidak diperjualbelikan. Itu diberikan cuma-cuma kepada orang yang sakit saja,” beber Naisyah.

Awasi Harga

Penjabat Wali Kota Makassar Iqbal Suhaeb sudah menginstruksikan instansi terkait untuk siaga terhadap virus korona. Dia meminta semuanya tetap terkendali. Termasuk kebutuhan-kebutuhan masyarakat.

Apalagi, setelah virus ini muncul di Indonesia, ada banyak oknum yang mulai memanfaatkan situasi. Salah satunya dengan memainkan harga hingga melakukan penimbunan.

Iqbal menegaskan, pemkot bakal mengawasi penjualan masker dengan ketat. Apalagi, masker menjadi buruan setelah virus ini mulai masuk ke Indonesia.

“Kalau ada yang seperti itu kita akan langsung tindaki. Tidak bakal kita kasih toleransi. Kalau itu apotek akan kita cabut izinnya. Kalau perorangan kita laporkan ke kepolisian,” paparnya.

Termasuk juga bahan-bahan makanan yang ada di pasaran. Dia memastikan tak bakal ada kenaikan harga secara signifikan, kecuali dimainkan oknum tertentu.

“Kita akan peringatkan pedagang bahwa tidak boleh ada yang menjual bahan makanan di atas harga normal. Kenaikan toleransi itu 100 persen. Di atas itu tidak boleh,” tegasnya.

Dinas Perdagangan Makassar, kata Iqbal, juga sudah diminta untuk terus melakukan pemantauan. “Disdag itu langsung koordinasi ke kepolisian. Kalau ada yang kedapatan langsung dilaporkan. Sudah ada timnya itu,” tambahnya.

Masuknya virus korona ke Indonesia, kata Iqbal, memang perlu disikapi secara bijak. Masyarakat diimbau jangan panik. Bisa tetap beraktivitas, asal tetap menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh.

“Kita ada call center 112 kalau ada hal-hal yang ingin disampaikan. Dalam beberapa hari dengan kondisi ini kita akan standby 24 jam karena ini bukan lagi masalah lokal,” pungkasnya. (*)