Terkini

Gaya Hidup Dengan Secangkir Kopi

“Kopi, sekarang sudah jadi lifestyle, bukan lagi dicari karena ingin meminumnya. Ini indikasi adanya pergeseran nilai atas kopi itu. Kita bisa asumsikan. Maju atau tidaknya sebuah kota atau daerah bisa dilihat dari banyak sedikitnya kedai kopi, coffeeshop. Jika banyak, maka itu tandanya daerah itu berkembang,” ujar JK saat kunjungan kerja ke Lampung.

Menikmati secangkir kopi kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban dalam satu dekade terakhir. Alhasil coffee shop atau kafe selalu menjadi tempat favorit mereka.

Bukan hanya sebagai tempat bersantai dan berkumpul bersama sahabat, kehadiran coffee shop atau kafe juga menjadi titik temu bagi kolega kerja sekaligus rapat bisnis. Apalagi hal ini semakin menyenangkan dengan tersedianya koneksi wifi.

Meski sajian yang ditawarkan berbeda antar coffee shop atau kafe, kopi tetap menjadi minuman favorit yang paling banyak dipesan. Hal ini terlihat dari data pertumbuhan peminum kopi di Indonesia yang meningkat 8% lebih tinggi dari pertumbuhan kopi secara global yang hanya 6%.

Sebuah penelitian yang diterbitkan The American Journal of Clinical Nutrition menyebutkan kafein pada kopi dapat mempengaruhi kadar hormon estrogen pada perempuan Asia sehat di usia subur. Kopi mengandung phytoestrogen, senyawa yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Di dalam tubuh, phytoestrogen bekerja meniru estrogen, walau kadarnya sangat sedikit dan bersifat lemah. Seperti yang kita tahu, estrogen menjadi faktor penyebaran kanker payudara.

Namun, pengaruh kopi pada estrogen dapat dibedakan sesuai jenisnya. Menurut Jingmei Li, penulis studi Breast Cancer Research, kopi seduh memiliki proteksi lebih terhadap risiko kanker payudara dibanding kopi yang telah disaring. Serta, kopi robusta memiliki isoflavon (salah satu jenis phytoestrogen) enam kali lebih banyak dibanding kopi arabika.

Adanya informasi ini tidak mengartikan bahwa minum kopi itu buruk. Sejumlah studi bahkan menyebutkan kopi bermanfaat bagi tubuh, antara lain meningkatkan konsentrasi, mengurangi stress, serta menurunkan risiko kanker dan diabetes. Jika perlu, tambahkan bahan-bahan lain pada kopi untuk menambah manfaatnya, seperti kayu manis untuk menurunkan gula darah dan kolesterol, juga bubuk cokelat untuk menurunkan risiko penyakit jantung.

“Orang Indonesia banyak minum kopi dibandingkan teh karena memang dari dulu kita sudah mengenal budaya ngopi. Ada kopi toraja, kopi medan, kopi aceh, jadi ini sebenarnya hanya ‘dimelekkin’ saja,” ungkap Kevindra Soemantri, seorang pemerhati kuliner dan gaya hidup, di kawasan Pakubuwono, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis.

Bila dibandingkan dengan tren makanan dan minuman lainnya, Kevin meyakini bahwa tren konsumsi kopi akan bertahan cukup lama. Bahkan, bukan tak mungkin dalam jangka waktu 10 tahun ke depan.

“Tren konsumsi kopi akan bertahan lama karena berakar pada budaya. Minum kopi sebenarnya sudah melekat di daerah, sehingga bisa akan berlanjut lebih dari 10 tahun ke depan. Berbeda dengan kue, seperti red velvet atau tren food truck yang cepat berganti karena itu bukan berasal dari budaya kita,” tutup Kevin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*